Atasi Overthinking Gen Z, ZIC Rangkul Kanca Aksara dan Insight Book Bedah Solusi Literasi Lewat Prinsip Iqra
JEMBER — Komunitas Kanca Aksara berkolaborasi dengan Zillennials Islamic Community (ZIC) dan Insight Book Community sukses menggelar Talkshow Series bertajuk "The Healing Power of Iqra': Dari Membaca Menuju Berkarya". Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Google Meet pada Jumat, 31 Juli 2026, mulai pukul 08.00 WIB, dengan dipandu oleh Aqila Yumna (Co-Founder ZIC) selaku host.
Acara yang terbuka untuk umum ini menghadirkan dua narasumber penggiat literasi muda, yaitu Wa Ode Ayuningsyah Agu atau Ayu Waode (Founder Insight Book Community) dan Indah Kumalasari (Leader Kanca Aksara).
Sebagai pembicara pertama, Ayu Waode membedah realitas kebiasaan membaca generasi muda masa kini. Mahasiswa D4 Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Negeri Jember tersebut meluruskan anggapan bahwa Gen Z adalah generasi yang malas membaca. Menurutnya, Gen Z justru merupakan generasi yang paling sering membaca setiap harinya melalui gawai.
Namun, Ayu menegaskan bahwa masalah utamanya terletak pada ketidaksadaran mengenai jenis informasi yang dikonsumsi.
"Kita ini sebenarnya generasi yang paling sering membaca. Masalah utamanya adalah kita tidak sadar sedang memberi makan pikiran kita dengan apa. Sebab, apa yang kita baca akan membentuk cara berpikir, menentukan cara bersikap, hingga menghasilkan keputusan dalam hidup," papar Ayu.
Ia juga mengaitkan fenomena ini dengan nilai-nilai spiritual, di mana prinsip pentingnya memilih bacaan yang bermakna telah diajarkan dalam Islam sejak 1.400 tahun lalu melalui perintah wahyu pertama, yaitu Iqra' (Bacalah).
Melengkapi pandangan tersebut, Leader Kanca Aksara, Indah Kumalasari, membedah krisis kesehatan mental dan kecenderungan overthinking (OVT) pada Gen Z akibat fenomena ledakan informasi (infobesity). Merujuk pada data SKI 2023 Kemenkes RI dan PISA 2022, melimpahnya konten acak di media sosial justru memicu kelelahan mental dan depresi pada usia muda.
Indah menjelaskan bahwa membaca buku secara terstruktur hadir sebagai media pemulihan jiwa (healing) yang efektif untuk memberi jeda pada pikiran yang riuh.
"Membaca bukan sekadar menambah wawasan ilmiah, melainkan proses memberi jeda pada pikiran yang bising dan menyusun kembali emosi yang berantakan," ungkap Indah.
Sebagai solusi nyata, kedua narasumber mengajak peserta untuk bijak menyaring informasi media sosial, rutin membaca buku 15–30 menit sehari tanpa gangguan gawai, serta mengolah wawasan yang diperoleh menjadi karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Acara ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif. Melalui talkshow ini, Kanca Aksara dan ZIC berharap para peserta dapat mengembalikan hakikat membaca sebagai sarana menata pikiran, menyembuhkan luka jiwa, dan menjadi pijakan dalam melahirkan karya-karya terbaik.
Penulis: Indah Kumalasari
Kanca Aksara!
Menyalakan Literasi untuk Mencerahkan Bangsa




.jpeg)